DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (D.I.Y)
[32]DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang tangible (fisik) maupun yang intangible
(non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar
budaya, dan benda cagar budaya sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat.
DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang
tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya
peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai
institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya,
merupakan embrio, dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat
dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya, dan beradat
tradisi. Selain itu, DIY juga mempunyai 30 museum,
yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu, dan Museum Sonobudoyo
diproyeksikan menjadi museum internasional. Pada 2010, persentase benda
cagar budaya tidak bergeak dalam kategori baik sebesar 41,55%, seangkan
kunjungan ke museum mencapai 6,42%[33].
Jumlah penduduk kota Yogyakarta, berdasar Sensus Penduduk 2010 [3]., berjumlah 388.088 jiwa, dengan proporsi laki-laki dan perempuan yang hampir setara.Yogyakarta juga menjadi tempat lahirnya salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan
pada tahun 1912 di Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Hingga
saat ini, Pengurus Pusat Muhammadiyah masih tetap berkantor pusat di
Yogyakarta.
Bentuk wisata di DIY meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus, dan berbagai fasilitas wisata lainnya, seperti resort, hotel, dan restoran.
Tercatat ada 37 hotel berbintang, dan 1.011 hotel melati di seluruh DIY
pada 2010. Adapun penyelenggaraan MICE sebanyak 4.509 kali per tahun
atau sekitar 12 kali per hari[19].
Keanekaragaman upacara keagamaan, dan budaya dari berbagai agama serta
didukung oleh kreativitas seni, dan keramahtamahan masyarakat, membuat
DIY mampu menciptakan produk-produk budaya, dan pariwisata yang
menjanjikan. Pada tahun 2010 tedapat 91 desa wisata dengan 51 di
antaranya yang layak dikunjungi. Tiga desa wisata di kabupaten Sleman
hancur terkena erupsi gunung Merapi sedang 14 lainnya rusak ringan [20].
Kota Yogyakarta telah terintegrasi dengan sejumlah kawasan di
sekitarnya, sehingga batas-batas administrasi sudah tidak terlalu
menonjol. Untuk menjaga keberlangsungan pengembangan kawasan ini,
dibentuklah sekretariat bersama Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, dan
Bantul) yang mengurusi semua hal yang berkaitan dengan kawasan
aglomerasi Yogyakarta dan daerah-daerah penyangga (Depok, Mlati,
Gamping, Kasihan, Sewon, dan Banguntapan).
Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta merupakan daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri atau disebut Zelfbestuurlandschappen/Daerah Swapraja, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755,
sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo
(saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I
pada tahun 1813. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan, dan
Pakualaman sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri
yang dinyatakan dalam kontrak politik. Kontrak politik yang terakhir
Kasultanan tercantum dalam Staatsblaad 1941 Nomor 47, sedangkan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad
1941 Nomor 577. Eksistensi kedua kerajaan tersebut telah mendapat
pengakuan dari dunia internasional, baik pada masa penjajahan Belanda, Inggris, maupun Jepang.
Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah
siap menjadi sebuah negara sendiri yang merdeka, lengkap dengan sistem
pemerintahannya (susunan asli), wilayah, dan penduduknya.
Sebelumnya tombak ini disimpan di bangsal Pracimosono dan sebelum
diserahkan terlebih dahulu dijamasi oleh KRT. Hastono Negoro, di dalem
Yudonegaran. Pemberian nama Wijoyo Mukti baru dilakukan bebarapa hari
menjelang upacara penyerahan ke Pemkot Yogyakarta, pada peringatan hari
ulang tahun ke-53 Pemerintah kota Yogyakarta tanggal 7 Juni 2000.
Upacara penyerahan dilakukan di halaman Balaikota dan pusaka ini dikawal
khusus oleh prajurit Kraton ”Bregodo Prajurit Mantrijero”.
Tombak Kyai Wijoyo Mukti melambangkan kondisi Wijoyo Wijayanti.
Artinya, kemenangan sejati pada masa depan, dimana seluruh lapisan
masyarakat dapat merasakan kesenangan lahir bathin karena tercapainya
tingkat kesejahteraan yang benar-benar merata.
Menurut UU Nomor 3 tahun 1950 yang dikeluarkan oleh negara bagian
Republik Indonesia yang beribukota di Yogyakarta pada maret 1950,
keistimewan DIY mengacu pada keistimewaan yang diberikan oleh UU Nomor
22 Tahun 1948 yaitu Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden dari
keturunan keluarga yang berkuasa di daerah itu pada zaman sebelum
Republik Indonesia, dan yang masih menguasai daerahnya, dengan
syarat-syarat kecakapan, kejujuran, dan kesetiaan, dan dengan mengingat
adat istiadat di daerah itu[50].
Selain itu, untuk Daerah Istimewa yang berasal dari gabungan daerah
kerajaan dapat diangkat seorang Wakil Kepala Daerah Istimewa dengan
mengingat syarat-syarat sama seperti kepala daerah istimewa. Sebab pada
saat itu daerah biasa tidak dapat memiliki wakil kepala daerah. Adapun
alasan keistimewaan Yogyakarta diakui oleh pemerintahan RI menurut UU
Nomor 22 Tahun 1948 (yang juga menjadi landasan UU Nomor 3 Tahun 1950
mengenai pembentukan DIY), adalah Yogyakarta mempunyai hak-hak asal
usul, dan pada zaman sebelum Republik Indonesia sudah mempunyai
pemerintahan sendiri yang bersifat Istimewa.

No comments:
Post a Comment