DENPASAR IBU KOTA PROPINSI BALI
Kota Denpasar berada pada ketinggian 0-75 meter dari permukaan laut,
terletak pada posisi 8°35’31” sampai 8°44’49” Lintang Selatan dan
115°00’23” sampai 115°16’27” Bujur Timur. Sementara luas wilayah Kota
Denpasar 127,78 km² atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi Bali. Dari
penggunaan tanahnya, 2.768 Ha merupakan tanah sawah, 10.001 Ha merupakan
tanah kering dan sisanya seluas 9 Ha adalah tanah lainnya. Tingkat
curah hujan rata-rata sebesar 244 mm per bulan, dengan curah hujan yang
cukup tinggi terjadi pada bulan Desember. Sedangkan suhu udara rata-rata
sekitar 29.8° C dengan rata-rata terendah sekitar 24.3° C.Bali tidak memiliki jaringan rel kereta api namun jaringan jalan yang ada di pulau ini tergolong sangat baik dibanding daerah-daerah lain di Indonesia, jaringan jalan tersedia dengan baik khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan yakni Legian, Kuta, Sanur, Nusa Dua, Ubud,
dll. Sebagian besar penduduk memiliki kendaraan pribadi dan memilih
menggunakannya karena moda transportasi umum tidak tersedia dengan baik,
kecuali taksi dan angkutan pariwisata. Moda transportasi masal saat ini disiapkan agar Bali mampu memberi kenyamanan lebih terhadap para wisatawan.
Baru-baru ini untuk melayani kebutuhan transportasi massal yang layak
di pulau Bali diluncurkan Trans Sarbagita (Trans Denpasar, Badung,
Gianyar, Tabanan) Menggunakan Bus besar dengan fasilitas AC dan tarif Rp
3.500.
Pelabuhan Benoa merupakan pintu masuk ke Kota Denpasar melalui jalur laut dan saat ini dikelola oleh PT Pelindo III.[21] Pelabuhan ini berada sekitar 10 km dari pusat kota, dan telah beroperasi sejak dari tahun 1924.
Sarana transportasi darat di Kota Denpasar terutama untuk angkutan kota saat ini sudah mulai tidak efektif dan efisien,[22]
sampai tahun 2010 hanya 30 % yang masih beroperasi, seiring dengan
berkurangnya minat masyarakat untuk mengunakan jasa angkutan tersebut,
yang diperkirakan hanya sekitar 3 % dari total jumlah penduduknya.[23]
Sementara pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi terus meningkat
menjadi 11 % per tahunnya, dan tidak sebanding dengan pembangunan jalan
baru. Sehingga terjadi kemacetan di Kota Denpasar tidak dapat dihindari.[24]
Selain itu Denpasar memiliki Jalan Tol Bali Mandara yang mempunyai 4 jalur dan dibuka untuk kalangan tertentu pada 23 September 2013. Jalan tol ini lalu dibuka untuk umum pada 1 Oktober 2013, menghubungkan Pelabuhan Benoa, Bandara Ngurah Rai dan Nusa Dua[25]. Jalan sepanjang 12.45 km ini juga dibangun dengan jalur khusus untuk motor.
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara
selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri
khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin
dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat
diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang
dipakainya.
Pembangunan pariwisata berpengaruh kuat terhadap perubahan struktur dan
peningkatan perekonomian di Kota Denpasar. Namun struktur perekonomian
Kota Denpasar sedikit berbeda bila dibandingkan dengan struktur
perekonomian Provinsi Bali pada umumnya, dengan menempatkan sektor perdagangan, hotel dan restoran mendominasi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Denpasar.[16]Ikut pula mendongkrak ekonomi Kota Denpasar adalah produksi barang
kerajinan berupa barang kerajinan untuk cinderamata, seperti ukiran dan
patung. Namun industri kerajinan ini tengah mengalami tekanan, selain
karena dampak krisis dan persaingan antar daerah, tekanan lain berasal
dari persaingan antar negara berkembang Asia lainnya seperti Vietnam, Thailand, India, Malaysia dan Cina.
Negara pesaing ini lebih memaksimalkan besarnya skala produksi dengan
memanfaatkan teknologi industri, sedangkan di Kota Denpasar industri
kerajinan ini masih mempertahankan keterampilan tangan (hand made) sehingga menjadi kendala pada pemenuhan kuantitas produksinya.[2]
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC
pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus
mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di
Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari
wilayah utara Bali, semenjak 1840-an
kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan
mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu
sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat
terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali
yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu
karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai titk
darah penghabisan atau perang puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya.
Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut,
meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya,
para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan
pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan
budaya umumnya tidak berubah.
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam
berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain
menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan
masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Denpasar juga terkenal dengan wisata kulinernya. Beberapa tempat yang
sangat dikenal baik oleh turis lokal maupun mancanegara adalah:
- Nasi Ayam Kedewatan - Jalan Tukad Badung, Denpasar
- Nasi Ikan Mak Beng - dekat Hotel Radisson
- Nasi Campur - Pantai Segara, Sanur
- Babi Guling Chandra - Jalan Teuku Umar (non-halal).
Beberapa oleh-oleh Bali yang terkenal diantaranya adalah dodol bali, brem, kacang rahayu, pie susu, kacang disco, salak bali, kacang kapri, kerupuk ceker ayam, pia legong dan kopi bali. Beberapa tempat khusus yang menjual oleh-oleh diantaranya adalah:
- Toko Krisna
- Toko Erlangga
- Pasar Kumbasari
Bali adalah primadona pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di
seluruh dunia. Selain terkenal dengan keindahan alamnya, terutama
pantainya, Bali juga terkenal dengan kesenian dan budayanya yang unik
dan menarik. Bali sebagai tempat tujuan wisata yang lengkap dan terpadu
memiliki banyak sekali tempat wisata menarik, apa saja tempat wisata di
Bali yang wajib dikunjungi. beberapa tempat itu antara lain : Pantai
Kuta, Pura Tanah Lot, Pantai Padang - Padang, Danau Beratan Bedugul,
Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pantai Lovina dengan Lumba Lumbanya, Pura
Besakih, Uluwatu, Ubud, Munduk, Kintamani, Amed, Tulamben, Pulau
Menjangan dan masih banyak yang lainnya.

No comments:
Post a Comment