
KOTA KUPANG IBU KOTA NUSA TENGGARA TIMUR
Kota Kupang adalah kota yang multi etnis dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores,Alor, Lembata, Tionghoa sebagian kecil suku pendatang dari Ambon
dan beberapa suku bangsa lainnya seperti Jawa dan Bali. Tetapi terlepas
dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Kupang akan menyebut
diri mereka sebagai "Beta orang Kupang".
Kota ini menyimpan banyak pesona, khususnya penggemar sea food. Wisatawan yang berkunjung ke kota ini biasanya terkesan dengan ikan bakar yang ukurannya besar-besar dengan harga yang relatif murah. Pasar malam yang populer di Kota Kupang yang menyajikan makanan sari laut terletak di daerah Kampung Solor di sekitar bekas bioskop Raja. Dinikmati dengan sambal khas Kupang, tentu wisatawan akan langsung berjanji pada diri sendiri: "suatu saat nanti, beta akan kembali lagi". Juga cumi-cumi dan udang segar yang mengeluarkan aroma manis ketika dibakar sangat mengundang selera. Di samping itu wisatawan juga akan disuguhkan salah satu makanan khas kota Kupang, yaitu "jagung bose". Makanan ini dibuat dari campuran jagung dan sayuran serta biji-bijian (biasanya kacang hijau dan kacang tanah). Ada juga "daging se'i", yaitu daging sapi atau daging babi yang diasap dan dicampur susu, garam dan rempah-rempah sehingga rasanya ada yang manis dan juga asin. Kota ini juga memiliki pesona wisata karena memiliki pantai pasir putih yang indah dan laut biru yang cantik. Sejak beberapa tahun terakhir ini menjadi langganan persinggahan peserta lomba perahu layar internasional.
Kota ini menyimpan banyak pesona, khususnya penggemar sea food. Wisatawan yang berkunjung ke kota ini biasanya terkesan dengan ikan bakar yang ukurannya besar-besar dengan harga yang relatif murah. Pasar malam yang populer di Kota Kupang yang menyajikan makanan sari laut terletak di daerah Kampung Solor di sekitar bekas bioskop Raja. Dinikmati dengan sambal khas Kupang, tentu wisatawan akan langsung berjanji pada diri sendiri: "suatu saat nanti, beta akan kembali lagi". Juga cumi-cumi dan udang segar yang mengeluarkan aroma manis ketika dibakar sangat mengundang selera. Di samping itu wisatawan juga akan disuguhkan salah satu makanan khas kota Kupang, yaitu "jagung bose". Makanan ini dibuat dari campuran jagung dan sayuran serta biji-bijian (biasanya kacang hijau dan kacang tanah). Ada juga "daging se'i", yaitu daging sapi atau daging babi yang diasap dan dicampur susu, garam dan rempah-rempah sehingga rasanya ada yang manis dan juga asin. Kota ini juga memiliki pesona wisata karena memiliki pantai pasir putih yang indah dan laut biru yang cantik. Sejak beberapa tahun terakhir ini menjadi langganan persinggahan peserta lomba perahu layar internasional.
Pulau Kera dapat dilihat dari pinggir Kota Kupang. Untuk menyeberang
ke Pulau Kera anda hanya perlu menyewa kapal penduduk saja. Penduduk
Pulau Kera sangat ramah kepada pendatang. Karenanya anda disarankan
untuk membawa makanan yang banyak guna berbagi dengan mereka. Pasalnya,
penduduk Pulau Kera hidup dengan sederhana sekali.
Pulau ini mempunyai hamparan pantai dengan pasir seputih salju.
Keindahannya bahkan bisa terlihat dari seberang lautan. Pasir putihnya
berkilau indah dan mengundang anda untuk mendekat. Ombaknya pun tenang,
jadi anda bisa bermain sepuasnya di bibir pantai, berjemur, bermain
ombak atau pasir, sambil menikmati keramahan penduduk pulau Kera.
Selain Pulau kera masih ada Pantai tablolong Di pantai ini, anda bisa berenang, memancing, berlayar atau aktivitas
apa saja yang biasa dilakukan di pantai. Apalagi, ombak di sini beriak
tenang dan kecil. Pantai Tablolong adalah pantai yang sering digunakan
untuk kompetisi memancing. Baik skala tradisional maupun nasional.
Datang ke pantai Tablolong, anda tidak akan kecewa. Fasilitas di sini
lebih baik daripada di Pantai Lasiana.
Di wilayah Kota Kupang terdapat Pelabuhan Rakyat di Namosain dan
Pelabuhan Laut Kupang. Pelabuhan Rakyat Kupang di Namosain merupakan
pelabuhan laut alam yang sekarang telah ditata dengan lebih baik.
Pelabuhan ini kapal-kapal kayu melayani transportasi laut menuju Rote,
Semau dan beberapa daerah di sekitar Kota Kupang. Sebelumnya juga
digunakan oleh para nelayan sebagai tempat berlabuh dan bongkar muat
hasil tangkapan. Selain tempat untuk menangkap ikan Pelabuhan di Kupang juga mempunyai pemandangan yang bagus Seperti Pelabuhan Larantuka Larantuka kota
kecil yang berada tepat dibawah kaki gunung Mandiri merupakan salah satu lokasi
dengan aktivitas pelabuhan teramai di NTT. Kota dengan julukan kota Bunda Maria
atau Reinha Rosari ini bisa di bilang kota pesissir karena letaknya yang tak
jauh dari bibir pantai. di apiti dua pulau yakni pulau Adonara dan Pulau Solor
membuat kota ini menjadi kota yang nyaman dan terlindungi jika ada tsunami. di
Larantuka sendiri terdapat dua pelabuhan utama dan beberapa pelabuhan besar tempat
penampungan ikan, maklum daerah flores timur merupakan satu - satunya daerah
komoditi pengekspor ikan terbesar di NTT.
Sistem transportasi darat Kota Kupang dilayani oleh minibus angkutan
kota yang biasa disebut bemo. Ada pula layanan taksi dan beberapa rute
dilayani oleh bus kota. Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh
bemo yang menghubungkan beberapa terminal seperti Terminal Kupang,
Terminal Oepura dan Terminal Oebobo. Untuk keberangkatan jalan darat ke
luar kota dilayani di Terminal Oebobo
Siapa sih yang tidak kenal dengan Danau yang Satu ini? Salah satu Danau yang terkenal di Seluruh indonesia bahkan sudah menarik para tamu dari mancanega, DANAU KELIMUTU adalah danau kawah yang berlokasi di puncak Gunung
Kelimutu (gunung berapi) yang ada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Gunung ini berlokasi di Desa Pemo, Kelimutu, Kabupaten Ende. Danau ini
dikenal dengan Danau Tiga Warna karena mempunyai 3 warna yang berbeda,
yakni merah, biru, dan putih. Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan
warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo"
merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan
selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau
berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh orang lio Van Such Telen, warga negara Bapak Belanda Mama Lio
, tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan
dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang
menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka
yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang
ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu.
Semoga menjadi referensi liburan keluarga anda..

No comments:
Post a Comment